PAMEKASAN, Radar Expose – Ada fenomena menarik dalam pengelolaan TPS3R di Pamekasan. Begitu persoalan diberitakan dan mulai ramai diperbincangkan, tiba-tiba ada TPS3R yang dibersihkan, bahkan ada yang kembali dibuka.
Publik pun mungkin perlu belajar ilmu baru:
“Cara mengaktifkan TPS3R: langkah pertama, tunggu sampai masuk berita.”
Kalau benar begitu, wartawan ternyata bukan hanya mencari berita.
Bisa-bisa wartawan merangkap petugas monitoring DLH.
Bedanya, kalau petugas datang membawa formulir, wartawan datang membawa kamera dan berita.
Dan hasilnya?
Sama-sama bikin TPS3R bergerak.
Wah, ini bisa jadi inovasi baru: “Pengawasan Berbasis Viral.”
Tidak perlu terlalu sering turun ke lapangan. Tunggu saja berita muncul. Kalau sudah ramai, baru bergerak.
Tentu ini hanya sindiran. Tetapi publik berhak bertanya serius: mengapa setelah diberitakan, fasilitas yang sebelumnya disebut bermasalah justru terlihat dibersihkan atau kembali dibuka?
Kalau pengawasan rutin memang berjalan, seharusnya kondisi TPS3R yang tidak beroperasi bisa diketahui lebih awal.
Jangan sampai masyarakat kemudian bercanda:
“Kalau TPS3R mati, jangan panik. Tunggu Garuda Pers menulis.”
Lebih lucu lagi kalau nanti muncul teori:
TPS3R bukan tutup, cuma sedang menunggu headline.
Namun di balik humor tersebut ada persoalan serius.
DLH Pamekasan perlu menjelaskan bagaimana sistem pengawasan TPS3R dilakukan. Apakah ada monitoring berkala? Apakah ada evaluasi pengelola? Apa tindakan ketika TPS3R tidak berjalan? Dan bagaimana memastikan fasilitas yang sudah dibangun tidak kembali mangkrak?
Sebab tugas pengawasan seharusnya tidak menunggu masyarakat berteriak.
Sampah datang setiap hari. Pengawasan juga semestinya jangan menunggu hari viral.
Jangan sampai nanti masyarakat punya rumus baru:
TPS3R + tidak diawasi = tutup.
TPS3R + diberitakan = bersih.
TPS3R + viral = buka kembali.
Kalau rumus itu sampai benar, berarti ada satu pertanyaan sederhana yang perlu dijawab:
“Yang sebenarnya mengawasi TPS3R itu DLH atau media?”
Pertanyaan ini memang terdengar lucu.
Tapi kalau sampai pejabat tersenyum kecut saat membacanya, mungkin justru di situlah letak persoalannya.
Garuda Pers menunggu jawaban resmi DLH Pamekasan. Bukan jawaban karena viral, tetapi jawaban tentang bagaimana pengawasan TPS3R sebenarnya berjalan.













