PAMEKASAN,, Radar Expose – Polemik rokok Durno Marbol kian memunculkan tanda tanya. Komunitas Wartawan Indonesia (KWI) Pamekasan mengaku mengalami hambatan saat meminta klarifikasi kepada Humas Bea Cukai Madura. Nomor WhatsApp yang digunakan Sekretaris KWI disebut diduga telah diblokir, tetapi hal tersebut belum terverifikasi melalui konfirmasi langsung dari pihak Bea Cukai.
Ketua KWI Pamekasan, Abdus Shomad, S.H., menyayangkan apabila komunikasi untuk memperoleh keterangan resmi justru terhambat. Ia menekankan pentingnya keterbukaan instansi berwenang, terutama ketika publik mempertanyakan dugaan pelanggaran cukai.
“Jangan sampai pengawasan terdengar garang, tetapi ketika publik meminta penjelasan, jawabannya justru menghilang,” menjadi inti kritik KWI yang menyindir kekhawatiran pengawasan menjadi seperti macan ompong.
Sindiran tersebut merupakan kritik terhadap perlunya transparansi, bukan kesimpulan bahwa Bea Cukai Madura telah gagal menjalankan tugasnya.
KWI meminta penjelasan mengenai status permintaan klarifikasi, pemeriksaan rokok Durno Marbol, serta data resmi penindakan rokok ilegal di Pamekasan selama Januari–September 2026.
Legalitas produk yang dipersoalkan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan polemik. Diperlukan pemeriksaan dokumen, pita cukai, dan keterangan resmi dari instansi berwenang.
Di sisi lain, informasi mengenai dugaan pengancaman terhadap seorang perempuan yang disebut terkait dengan pihak dalam polemik tersebut juga masih membutuhkan konfirmasi mengenai status laporan dan penanganannya kepada kepolisian. Persoalan itu harus dipisahkan dari dugaan pelanggaran cukai.
KWI membuka ruang klarifikasi bagi Bea Cukai Madura. Redaksi GarudaPers.com juga menyediakan hak jawab dan koreksi bagi seluruh pihak terkait.
Kini, publik menunggu jawaban konkret. Jika pemeriksaan sudah dilakukan, jelaskan hasilnya. Jika belum, sampaikan statusnya. Sebab, pengawasan bukan sekadar soal kerasnya auman, melainkan bukti kerja, keterbukaan, dan tindak lanjut yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan sampai polemik terus berputar seperti sinetron panjang, sementara jawaban atas pertanyaan mendasar justru belum ditemukan.













