SAMPANG, RADAR EXPOSE – Proyek pembangunan pagar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di Kabupaten Sampang kini tengah menjadi sorotan tajam publik.
Proyek infrastruktur kesehatan yang menelan anggaran ratusan juta rupiah tersebut diduga dikerjakan asal-asalan, hingga memicu keretakan dini pada struktur beton penyangga utama.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, proyek yang dibiayai oleh Dana Alokasi Umum (DAU) earmark Tahun Anggaran 2026 ini memiliki nilai kontrak yang cukup fantastis untuk sebuah pagar, yakni sebesar Rp530.716.863.
Pekerjaan tersebut berada di bawah naungan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Sampang dengan nomor kontrak 027/3179/YANKES-SDR/434.203/2026 tertanggal 3 September 2026, dan digarap oleh mitra penyedia jasa CV Brahmana Jaya.
Namun, baru sebulan berjalan sejak penandatanganan kontrak, pelaksanaan di lapangan disinyalir mengabaikan standar metode kerja.
Dampaknya langsung terlihat di sisi sebelah selatan bangunan pagar, persis di sebelah timur tiang listrik. Struktur beton sloof yang baru saja mengering terpantau sudah mengalami keretakan yang cukup memprihatinkan.
Investigasi di lokasi proyek pada Kamis (8/10/2026) lalu, menguak adanya indikasi kuat manipulasi atau ketidaksesuaian material campuran beton (cor-coran).
Secara aturan teknis dan Standar Nasional Indonesia (SNI), struktur sloof untuk bangunan pagar idealnya menggunakan mutu beton K-175 hingga K-225 dengan formula perbandingan volume baku 1:2:3 (1 bagian semen : 2 bagian pasir : 3 bagian kerikil/batu pecah).
Pemandangan kontras justru ditemukan di area kerja CV Brahmana Jaya. Komposisi material diduga dioplos dengan perbandingan yang sangat jauh dari standar keselamatan, yakni 1:9:5 (1 bagian semen : 9 bagian pasir : 5 bagian batu cor) dengan menggunakan takaran wadah bekas galon cat tembok kapasitas 20 kg.
Ketidakseimbangan porsi semen yang terlampau minim ini ditengarai menjadi penyebab utama rapuhnya struktur, yang berujung pada penurunan mutu beton secara drastis hingga memicu keretakan fatal.
Tak hanya itu, lebar dan kedalaman lubang angkur besi terpantau sempit dan dangkal.
Sikap abai pelaksana proyek ini kian diperparah oleh minimnya fungsi kontrol di lapangan.
Pihak konsultan pengawas yang seharusnya menjadi benteng utama dalam menjaga mutu kualitas proyek milik negara ini justru terkesan tutup mata.
Saat mencoba dikonfirmasi oleh awak media untuk memberikan klarifikasi teknis perihal keretakan beton sloof dan metode takaran galon cat tersebut, pihak konsultan pengawas memilih tidak merespons.
Upaya konfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp pun hanya berstatus terbaca tanpa ada jawaban sepatah kata pun hingga berita ini ditayangkan.
Publik kini mendesak Dinkes KB Kabupaten Sampang selaku pengguna anggaran proyek untuk segera turun tangan mengevaluasi kinerja CV Brahmana Jaya dan pihak pengawas, sebelum kerugian negara yang lebih besar akibat kegagalan struktur bangunan benar-benar terjadi.
(Acung)













