PAMEKASAN, radarexpose — Jangan berhenti di atas kertas! Pesan tegas itu mengemuka dalam penandatanganan MoU program budidaya ayam petelur di Lapas Kelas IIA Pamekasan. Dengan sekitar 3.500 ekor ayam petelur, program tersebut didorong bukan sekadar menjadi proyek kerja sama, melainkan gerakan pemberdayaan yang hasilnya harus kembali dirasakan warga binaan dan masyarakat.
Founder Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa MoU hanyalah bagian formal dari sebuah kerja sama.
Menurutnya, ukuran keberhasilan bukanlah berapa banyak dokumen yang ditandatangani, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu dihasilkan.
MoU di depan ini saya katakan hanya sebatas formalitas. Mau berapa kali MoU pun, kalau tidak ditanamkan tentang bagaimana pentingnya manfaat, maka percuma,” tegas Ali, Selasa (15/9/2026).
Sebelum penandatanganan, Ali meninjau langsung fasilitas kandang dan populasi sekitar 3.500 ayam petelur di lingkungan Lapas Kelas IIA Pamekasan. Peninjauan tersebut ditandai dengan prosesi pemotongan pita.
Bagi Ali, keberadaan program produktif di dalam lembaga pemasyarakatan harus memiliki nilai lebih. Warga binaan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pembinaan, tetapi juga diberikan ruang untuk belajar, bekerja, menghasilkan, dan memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Lebih jauh, Ali mengungkapkan bahwa hasil produksi telur dari budidaya tersebut juga telah disalurkan secara gratis kepada masyarakat.
Kalau boleh saya jujur, ribuan telur dari budidaya ayam petelur ini hasil dari lapas yang langsung saya salurkan secara gratis kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa apa yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan titipan yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan.
Kita di sini hanya titipan saja; jangankan harta, nyawa pun hanya titipan,” lanjutnya.
Ali yang juga Direktur Central 88 Gold and Jewellery itu kemudian mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi sosial.
Ia secara khusus mendorong jajaran Lapas Pamekasan agar menjadikan program tersebut sebagai bagian dari perjuangan bersama dalam memberikan manfaat.
Pesan tersebut mendapat respons positif dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kusnali.
Ia menilai substansi kerja sama jauh lebih penting dibandingkan seremoni penandatanganan.
Menurutnya, keberhasilan program harus dilihat dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
MoU itu hanya seremoni.
Yang terpenting dan paling utama adalah kebermanfaatan untuk umat,” tegas Kusnali.
Bahkan, ia mengaku tersentuh dengan semangat sosial yang dibangun melalui kerja sama tersebut.ini yang bikin saya betah di sini dan hati saya merinding.
Semoga kerja sama ini bisa berlanjut dan bahkan kita bisa bersama-sama bergandengan tangan di surga,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kanwil Ditjenpas Jawa Timur, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Rektor Universitas Madura, Kepala Cabang BRI Area Madura, Manager External PT Ayunda Permata Sejahtera, serta sejumlah tokoh dan pejabat terkait.
Program budidaya ayam petelur ini menjadi bagian dari pengembangan kegiatan produktif di Lapas Kelas IIA Pamekasan. Harapannya, aktivitas tersebut mampu memperkuat pembinaan keterampilan warga binaan sekaligus membuka jalan agar hasil produksinya dapat memberi manfaat kepada masyarakat.
Pesannya jelas: MoU boleh menjadi awal, tetapi manfaat nyata harus menjadi tujuan akhir.













