SAMPANG, RADAR EXPOSE – Dinamika mengejutkan terjadi di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Sampang. Meski aktivitas pembelajaran telah resmi bergulir sejak diresmikan pada 31 Juli lalu, institusi pendidikan terpadu ini harus menghadapi tantangan besar terkait fluktuasi jumlah peserta didik yang sangat dinamis.
Berdasarkan data yang dihimpun tim Radar Expose, jumlah siswa yang bertahan hingga September ini tercatat sebanyak 299 anak dari total 313 siswa yang sempat hadir saat open house.
Penyusutan massal ini terjadi lantaran sejumlah siswa memilih mengundurkan diri dan pulang ke daerah asal mereka di empat kabupaten di Madura.
Dilema Kuota SD: Kursi Kosong Dialihkan ke SMP-SMA
Krisis keterisian siswa paling parah justru terjadi pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Dari total kuota 90 kursi yang dialokasikan khusus untuk anak-anak Kabupaten Sampang, tercatat baru 21 siswa yang resmi terisi.
Guna menyiasati melimpahnya kursi kosong ini, pihak pengelola terpaksa mengambil langkah taktis dengan mengalihkan sisa alokasi kursi ke jenjang SMP dan SMA.
Kepala SRT 1 Sampang Denok Setyowati menegaskan, manajemen sekolah tidak ambil pusing dengan fenomena keluar-masuknya siswa ini.
Menurutnya, SRT telah membentengi diri dengan sistem fleksibel Multi-Entry Multi-Exit (MEME).
“Sistem ini sengaja dirancang agar siswa bisa masuk atau keluar dari SRT kapan saja tanpa harus terikat atau menunggu pergantian tahun ajaran baru,” tegas Denok, pada Rabu (23/9/2026).
Tantangan Sosiologis: Takut Pisah & Cari Madrasah
Di sisi lain, pergerakan di lapangan terus digencarkan oleh Tim SDM Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Sampang demi memenuhi kuota yang tersisa.
Ketua Tim SDM PKH Sampang Moh. Hakim memaparkan, hingga pertengahan September, pihaknya bersama tim pusat berhasil menjangkau 35 calon siswa di wilayah Kecamatan Jrengik, Kedungdung, Sampang, dan Robatal. Dari jumlah tersebut, 15 anak dinyatakan siap ditetapkan sebagai siswa baru.
Namun, Hakim tidak menampik adanya benturan sosiologis yang cukup kuat di kalangan masyarakat bawah, khususnya bagi orang tua yang memiliki anak usia SD.
“Faktor usia membuat banyak orang tua tidak tega berpisah dengan anak mereka. Selain itu, sebagian masyarakat enggan melepas anaknya karena SRT belum menyediakan fasilitas madrasah,” ungkap Moh. Hakim kepada media.
Sasar Kemiskinan Ekstrem
Menyikapi hambatan kultural tersebut, Tim PKH berkomitmen untuk tidak mundur selangkah pun.
Upaya penyisiran akan terus dioptimalkan dengan target utama anak-anak yang berada di desil 1-2 (kategori kemiskinan ekstrem).
Anak-anak yang putus sekolah akan diprioritaskan penuh agar hak pendidikan layak mereka dapat diselamatkan melalui SRT Sampang.
(Acung)













