Sumenep||angkatberita — Misi penyelamatan masa depan remaja dibawa Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STITA Sumenep Posko 05 Bukabu ke MTs Nahdlatul Ulama (NU) Bukabu. Melalui Seminar Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), mereka mengajak puluhan peserta didik untuk berani berkata tidak pada perkawinan anak.
Seminar bertema “Dampak Negatif Perkawinan Anak Mengenal, Memahami, dan Cara Mencegahnya” ini digelar di Aula MTs NU Bukabu, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Kehadiran KPM STITA di madrasah ini bukan sekadar penyuluhan satu kali. Kegiatan ini menjadi pintu masuk gerakan edukasi berkelanjutan untuk menyelamatkan remaja dari jerat pernikahan dini yang masih marak terjadi.
“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti di seminar saja. Ini adalah langkah awal untuk pendampingan yang berkelanjutan,” ujar perwakilan KPM STITA Sumenep Posko 05 Bukabu.
Untuk itu, mahasiswa KPM menerapkan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi diajak terlibat aktif mengenali persoalan, memahami kondisi di lingkungan mereka, hingga merumuskan langkah pencegahan bersama.
Tujuannya, program pengabdian benar-benar hidup dan sesuai dengan kebutuhan remaja Bukabu.
Dalam seminar tersebut, peserta didik dibekali pemahaman utuh tentang bahaya perkawinan anak dari berbagai sisi: mulai dari terputusnya pendidikan, dampak sosial dan psikologis, risiko kesehatan reproduksi, hingga ketidaksiapan mental dalam membangun rumah tangga.
Hadir sebagai narasumber, H. Moh. Afif, S.Ag., M.Si. yang menekankan satu pesan kunci: pendidikan adalah penyelamat masa depan. Ia mendorong siswa untuk berpikir matang dan berani merencanakan masa depan sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup.
Misi penyelamatan remaja ini mendapat sambutan hangat dari pihak madrasah. Kepala MTs NU Bukabu, Imran Hushain, S.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas langkah progresif mahasiswa KPM.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kami sangat mengapresiasi kegiatan Seminar BRUS yang dilaksanakan oleh mahasiswa KPM STITA Sumenep. Kegiatan ini memberikan wawasan yang sangat penting bagi peserta didik mengenai dampak perkawinan anak, khususnya perkawinan pada usia muda, serta pentingnya mempersiapkan masa depan melalui pendidikan.”
“Karena ketika anak-anak yang masih dalam masa pendidikan sudah dikawinkan, dampaknya akan kembali kepada mereka masing-masing. Karena sangat rawan pada masa sekarang, banyak anak usia kini sudah langsung berkeluarga. Oleh karena itu, kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada seminar, tetapi juga dapat dilanjutkan melalui kegiatan pendampingan dan edukasi secara berkelanjutan,” tegas Moh. Afif.
Menurutnya, edukasi sejak usia sekolah adalah kunci. Remaja perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, pendidikan karakter, kecakapan hidup, dan keberanian mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Melalui seminar ini, kolaborasi antara perguruan tinggi dan madrasah pun semakin kuat. Ke depan, KPM STITA Posko 05 Bukabu bersama MTs NU Bukabu akan melanjutkan program melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan aksi, pelaksanaan pendampingan, hingga refleksi dan evaluasi berkala.
Dengan masuknya KPM STITA ke MTs NU Bukabu, diharapkan lahir generasi remaja Bukabu yang lebih berdaya berani melanjutkan pendidikan, berani bermimpi tinggi, dan berani menunda pernikahan demi masa depan yang lebih matang dan siap, Ujarnya.













