SUMENEP || Pesan itu menyebar cepat dari warga ke warga di Desa Lapa Laok, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), sikap warga kini bulat dan tegas, Lapa Laok butuh pemimpin, bukan penguasa.
Gelombang harapan akan perubahan itu terasa kuat sejak Jumat (05/09/2026). Warga tidak lagi bicara soal siapa yang akan maju, melainkan soal karakter kepemimpinan seperti apa yang harus hadir ke depan. Jawabannya adalah pemimpin yang melayani, bukan yang menekan.
Bagi masyarakat Lapa Laok, Pilkades bukan sekadar ajang pergantian sosok kepala desa. Ini adalah momentum untuk menentukan arah baru pembangunan dan masa depan desa yang lebih berpihak kepada rakyat.
“Kami tidak ingin ribut dengan siapa pun. Kami hanya ingin perubahan. Yang kami butuhkan itu pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan mau mendengar suara warga, bukan penguasa yang ditakuti warga,” tegas salah seorang warga.
Pesan senada disampaikan warga lainnya. Mereka menginginkan Pilkades yang benar-benar demokratis, jujur, transparan, dan bebas dari segala bentuk tekanan, agar masyarakat bisa memilih sesuai hati nurani.
“Jangan sampai masyarakat takut menyampaikan pendapat. Pilkades adalah hak warga. Kami ingin memilih pemimpin berdasarkan kemampuan dan rekam jejak, bukan karena tekanan atau kepentingan tertentu. Dari warga ke warga kami tegaskan, kami butuh pemimpin, bukan penguasa,” ungkapnya.
Identitas para narasumber dalam tulisan ini sengaja tidak dicantumkan demi melindungi keselamatan, kenyamanan, dan kebebasan mereka dalam menyampaikan aspirasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari potensi intimidasi maupun tekanan dari pihak-pihak tertentu.
Namun, dari suara-suara yang disamarkan itu, satu benang merah terlihat jelas, masyarakat Lapa Laok sedang bersatu mengevaluasi kepemimpinan dan ingin memastikan Pilkades berjalan tanpa rasa takut.
Pilkades semestinya menjadi ruang merdeka bagi rakyat. Sebab perubahan tidak akan pernah lahir dari kekuasaan yang menekan, tetapi dari keberanian warga menggunakan hak pilihnya.
Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan maju, melainkan siapa yang mampu menjadi pemimpin yang sesungguhnya bagi Lapa Laok, bukan sekadar menjadi penguasa.
Pilkades semakin dekat. Suara warga akan menjadi penentu.













