SAMPANG (RADAR EXPOSE)- Keinginan Pemerintah Kabupaten Sampang dalam hal peningkatan struktur jalan dari Hot Mix ke Ready Mix tak sesuai ekspektasi.
Program Kegiatan Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Lingkungan Rajawali Baru, Kelurahan Karang Dalam, Kecamatan Sampang, dengan nilai Rp. Rp. 249.322.000, sumber dana dari APBD Sampang, yang dikerjakan oleh CV. Padu Jaya sebagai penyedia jasa mengalami keretakan.
Padahal, masyarakat sekitar belum bisa menikmati dan memanfaatkan hasil pekerjaan tersebut. Mengingat, kondisi jalan dalam tahap proses pengeringan.
Akses jalan hanya bisa dilalui pengendara roda 2 saja, sementara untuk kendaraan roda 4 belum bisa melintas dan dialihkan ke jalur yang lain.
Pekerjaan ini, meliputi rabat beton ready mix dan drainase dengan menggunakan bahan pabrikasi berupa letter U atau U-Ditch pabrikan . Dengan harapan, adanya peningkatan kualitas mutu pekerjaan dengan metode yang benar.
Namun fakta di lapangan berkata lain, ditemukan beberapa sisi pelanggaran terkait bahan material yang digunakan dan metode pekerjaan yang salah.
Menanggapi hal ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Sampang melalui Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) kegiatan ini, Dodi, sebagai satuan kerja pelaksana dan pengendalian program dan kegiatan anggaran menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pengecekan dan perbaikan jalan rabat beton yang mengalami keretakan.
“Terkait rabat beton yang retak, kami sudah turun ke lapangan, yang retak sudah dibenahi. Kemungkinan, itu terjadi karena cuaca ekstrem,” terang Dodi, Jumat (21/8/2026).
Pemerhati Konstruksi Sampang Wirno menilai, persoalan utama dalam konteks ini adalah bukan hanya terletak dalam sisi perbaikannya saja, tapi harus juga dilihat faktor penyebab keretakan.
“Apakah karena faktor bahan materialnya, ataukah dari sisi metode pekerjaannya, termasuk pemadatan dan struktur pondasinya. Sudah benar apa tidak? bukan sekedar tambal sulam lantas permasalahan selesai,” ujarnya.
Menurutnya, yang harus diperbaiki adalah struktur pondasinya. Pemakaian material Pasir dan Batu (Sirtu) lokal menjadi penyebab keretakan. Sebab, tidak akan mampu menahan beban beton diatasnya.
Kedua, soal U-Ditch tanpa merk atau non pabrikan dengan resiko utama pada rendahnya kualitas mutu beton dan ketidakpastian presisi ukuran.
Hal itu, dapat menyebabkan saluran air cepat rusak, bocor, bahkan ambrol dalam jangka waktu pendek.
“Dasar pondasi jalan itu harus ada pemadatan dengan menggunakan mesin penggilas dan pemadat jalan, pasirnya pakai pasir koral Jawa. Sehingga keadaan struktur tanah tidak lembek. Bukan malah pakai sirtu. U-Ditchyapun jangan hanya asal, harus pabrikan,” dongkol Wirno.
Proyek ini, lanjut Wirno, sebagai cermin lemahnya pengawasan yang tidak berjalan secara optimal.
Pembiaran pemakaian bahan material dan kesalahan metode pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang termaktub dalam dokumen kontrak adalah faktor utama kegagalan dalam konstruksi.
“Segera lakukan pemeriksaan lapis pondasi pada jalan tersebut, baik itu mutu materialnya, spesikasi teknis, dan kesesuaian pekerjaannya. Pembangunan jalan itu menggunakan uang rakyat. Jadi, harus ada bentuk tanggungjawab dalam pengelolaannya, ” pintanya.
(redaksi)













