PAMEKASAN — Proyek pembangunan SDN Jungcangcang 1 tengah menjadi sorotan. Bukan karena gedungnya terlalu megah, melainkan karena muncul dugaan ketidaksesuaian material dan persoalan keselamatan kerja alias K3.
Kalau benar ukuran besi dan kayu yang digunakan berbeda dengan spesifikasi dalam dokumen pekerjaan, tentu muncul pertanyaan sederhana: yang dibangun ini sekolah atau proyek “versi kira-kira”?
Sebab, RAB, gambar kerja, dan spesifikasi teknis sudah dibuat bukan untuk menjadi koleksi dokumen yang rapi di atas meja. Semua itu merupakan acuan pekerjaan.
Kalau ukuran material sudah ditentukan, ya idealnya ukurannya mengikuti dokumen. Jangan sampai RAB berkata A, material berkata B, sementara publik disuruh menebak siapa yang benar.
Jika benar masih ditemukan pekerja yang tidak menggunakan helm dan rompi keselamatan, persoalannya menjadi semakin menarik. Sebab, di proyek konstruksi, helm bukan aksesori fashion dan rompi keselamatan bukan sekadar pelengkap agar foto proyek terlihat lebih “resmi”.
Keselamatan kerja itu wajib, bukan opsional seperti memilih topping cilok.
Yang lebih penting, proyek tersebut menggunakan anggaran negara. Artinya, masyarakat punya hak untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan.
Kalau material memang sesuai spesifikasi, jelaskan dan tunjukkan.
Kalau ada perubahan spesifikasi, jelaskan dasar dan mekanismenya.
Kalau soal K3 sudah diawasi, jelaskan pengawasannya.
Sebab kalau semuanya sudah sesuai, sebenarnya tidak ada alasan untuk alergi terhadap pertanyaan.
Jangan sampai nanti RAB sudah lengkap, gambar kerja sudah lengkap, spesifikasi sudah lengkap, tetapi ketika material datang malah punya pendapat sendiri.
Publik tentu berharap pembangunan sekolah bukan hanya menghasilkan bangunan yang kokoh, tetapi juga proses pekerjaan yang transparan, sesuai aturan, dan mengutamakan keselamatan.
Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Kepala SDN Jungcangcang 1, P2SP, Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, maupun pihak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait seluruh temuan dan pertanyaan dalam pemberitaan ini.
Karena pada akhirnya, yang dibangun bukan cuma gedung sekolah.
Jangan sampai anak-anak nanti belajar matematika tentang ukuran, sementara proyek sekolahnya justru mengajarkan bahwa ukuran bisa punya banyak versi.













