PAMEKASAN (radarexpose) — Kalau pekerjaan proyek bisa punya kalender sendiri, mungkin P3-TGAI Desa Nyalabuh Laok sedang memilih tanggal yang paling cocok untuk mulai bergerak.
Pasalnya, tambahan pekerjaan sepanjang 96,20 meter hasil koreksi BBWS Brantas hingga Selasa (22/9/2026) ternyata masih nol pekerjaan.
Padahal, sebelumnya disebut pekerjaan tambahan tersebut direncanakan mulai 21 September 2026.
Artinya, tanggalnya sudah lewat, tetapi pekerjaan fisiknya belum terlihat. Kalau ini pertandingan sepak bola, jadwal kick-off sudah ditentukan, wasit sudah siap, tetapi pemainnya masih belum masuk lapangan.
Karman dari tenaga ahli Balai (KMB) BBWS Brantas membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi Angkatberita.id.
Belum ada pekerjaan,” kata Karman singkat.
Sebelumnya, Karman menyampaikan bahwa pihaknya belum menerima laporan pekerjaan tambahan telah dimulai. Ia menyebut pekerjaan sementara direncanakan mulai 21 September dan bahkan meminta agar pelaksanaan bisa dilakukan lebih awal.
Namun, hingga 22 September, pekerjaan tersebut belum juga dimulai.
96,20 Meter Sudah Dihitung, Tinggal Dibuktikan
Polemik P3-TGAI Nyalabuh Laok bermula dari persoalan penggunaan saluran lama dalam pekerjaan. BBWS Brantas kemudian melakukan pengecekan dan penghitungan di lapangan.
Hasil koreksi menyebut terdapat kewajiban penambahan volume sepanjang 96,20 meter.
Sebelumnya, Karman juga menyampaikan bahwa apabila penambahan volume tersebut tidak dilaksanakan, terdapat nilai sekitar Rp69,3 juta yang harus dikembalikan ke kas negara.
Jadi sekarang persoalannya sebenarnya cukup sederhana.
Meterannya sudah ada. Angkanya sudah dihitung. Koreksinya sudah ditentukan. Tinggal pekerjaan fisiknya kapan dimulai.
Jangan sampai 96,20 meter ini justru menjadi proyek paling rajin dalam hal “menunggu”.
Tenggat Masih 15 Oktober, Tapi Jam Terus Berdetak
Batas penyelesaian melalui addendum sebelumnya disebut maksimal hingga 15 Oktober 2026. Artinya, secara waktu memang masih tersedia.
Namun, kalender tetap berjalan.
Semakin lama pekerjaan tidak dimulai, semakin pendek waktu yang tersisa untuk menyelesaikan kewajiban koreksi tersebut.
Sementara itu, sebelumnya juga disampaikan adanya konsekuensi terhadap keikutsertaan dalam program berikutnya apabila kewajiban hasil koreksi tidak diselesaikan.
Kini publik tinggal menunggu satu hal yang paling mudah diverifikasi:
Apakah 96,20 meter benar-benar akan dibangun, atau justru Rp69,3 juta yang akhirnya berjalan menuju kas negara?
Sebab dalam proyek, yang ditunggu bukan lagi janji tanggal mulai.
Yang ditunggu adalah pekerjaan nyata di lapangan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh kepastian kapan tambahan pekerjaan sepanjang 96,20 meter tersebut benar-benar dimulai setelah jadwal 21 September terlewati.













